Program Perkuliahan Karyawan
UNIVERSITAS BHINNEKA NUSANTARA

UNIVERSITAS BHINNEKA NUSANTARA

UBHINUS
Jurusan

Cara Mengenali Minat sebelum Memilih Jurusan Desain Komunikasi Visual

Kenali minat sebelum memilih Jurusan DKV lewat pengalaman desain, latihan konsep visual, refleksi proses kreatif, dan eksplorasi materi Desain Komunikasi Visual

Cara Mengenali Minat sebelum Memilih Jurusan Desain Komunikasi Visual

Bekerja di bidang desain tidak selalu berarti kamu sudah yakin ingin mengambil Jurusan Desain Komunikasi Visual.

Ada orang yang setiap hari membuat konten visual, mengolah permintaan desain, menyesuaikan warna, memilih foto, atau mengikuti contoh dari klien. Namun, di saat yang sama, ia masih bertanya apakah dirinya benar-benar ingin mempelajari desain secara lebih dalam.

Pertanyaan seperti itu wajar.

Minat terhadap Desain Komunikasi Visual atau DKV tidak hanya terlihat dari kemampuan menggunakan aplikasi desain. Minat juga bisa muncul dari rasa penasaran terhadap alasan sebuah visual bekerja, bagaimana pesan disusun, mengapa satu desain terasa lebih kuat daripada desain lain, atau bagaimana sebuah ide diterjemahkan menjadi bentuk visual.

Bagi pekerja desain grafis, pengalaman kerja justru bisa menjadi tempat yang baik untuk mengenali minat tersebut.

Kamu dapat mulai dari aktivitas yang sudah sering dilakukan, melihat bagian mana yang paling menarik, mencoba latihan sederhana, lalu menghubungkannya dengan hal-hal yang dipelajari di S1 Desain Komunikasi Visual.

 

Saat Mengolah Permintaan Desain, Apa yang Paling Membuatmu Penasaran?

Bayangkan kamu menerima permintaan desain dari atasan atau klien.

Arahnya sudah cukup jelas. Warna ditentukan. Referensi diberikan. Teks sudah tersedia. Kamu tinggal menyusun semuanya menjadi sebuah visual.

Pekerjaan seperti ini mungkin sudah sering dilakukan.

Tetapi coba perhatikan apa yang terjadi ketika kamu mulai mengerjakan desain tersebut.

Apakah kamu hanya ingin menyelesaikannya secepat mungkin?

Atau kamu justru mulai bertanya:

Mengapa warna ini dipilih?

Apakah susunan teksnya sudah mudah dibaca?

Apakah gambar ini benar-benar sesuai dengan pesan yang ingin disampaikan?

Bisakah konsep visualnya dibuat dengan pendekatan yang berbeda?

Pertanyaan-pertanyaan seperti itu dapat menjadi petunjuk adanya minat terhadap proses desain yang lebih dalam.

DKV bukan hanya soal membuat sesuatu terlihat menarik.

Di dalamnya terdapat proses memahami pesan, audiens, media, konsep visual, tipografi, gambar, video, hingga cara sebuah desain berkomunikasi.

Karena itu, rasa penasaran terhadap alasan di balik sebuah desain bisa menjadi titik awal untuk mengenali apakah kamu ingin mempelajari bidang ini lebih jauh.

Baca juga: Kenali Program S1 Desain Komunikasi Visual UBHINUS

 

Gunakan Rutinitas Kerja untuk Mengenali Minat DKV

Pekerjaan sehari-hari sebenarnya menyediakan banyak bahan untuk refleksi.

Coba ingat beberapa pekerjaan desain yang pernah kamu lakukan.

Kemudian kelompokkan menjadi tiga bagian.

Pertama, aktivitas yang membuatmu penasaran.

Misalnya, kamu menikmati saat mencari konsep, menyusun komposisi, memilih tipografi, mencari referensi visual, atau memikirkan cara agar sebuah pesan lebih mudah dipahami.

Kedua, aktivitas yang kamu lakukan karena memang harus diselesaikan.

Kamu mampu melakukannya, tetapi setelah pekerjaan selesai, tidak ada keinginan untuk mempelajarinya lagi.

Ketiga, aktivitas yang tetap ingin kamu eksplorasi meskipun pekerjaan sudah selesai.

Bagian ketiga ini penting diperhatikan.

Misalnya, setelah membuat poster, kamu masih mencoba beberapa tata letak lain karena penasaran mana yang lebih kuat.

Setelah membuat konten media sosial, kamu mulai mencari tahu mengapa komposisi tertentu terasa lebih seimbang.

Atau setelah mengikuti desain referensi, kamu mulai merasa ingin menghasilkan gagasan visual yang lebih khas milikmu sendiri.

Rasa ingin mencoba lagi dapat menjadi tanda bahwa ada bagian tertentu dari desain yang benar-benar ingin kamu pahami.

Dari sini, kamu bisa mulai membedakan antara kemampuan yang terbentuk karena pekerjaan dan minat yang ingin terus dikembangkan.

 

Jangan Hanya Bertanya Apakah Kamu “Jago Desain”

Salah satu kesalahan saat mengenali minat adalah terlalu cepat menghubungkannya dengan kemampuan saat ini.

Seseorang bisa berpikir:

“Saya belum terlalu bagus menggambar, berarti mungkin tidak cocok masuk DKV.”

Atau:

“Saya baru bisa desain sederhana, berarti kemampuan saya kurang.”

Padahal, minat dan kemampuan saat ini adalah dua hal yang berbeda.

Kemampuan dapat berkembang melalui latihan.

Sementara minat berkaitan dengan sesuatu yang membuat kamu ingin terus memahami, mencoba, dan mengeksplorasi.

Karena itu, pertanyaan yang lebih berguna bukan hanya:

“Apakah saya sudah jago desain?”

Tetapi:

“Bagian dari proses desain apa yang membuat saya ingin belajar lebih jauh?”

Mungkin kamu tertarik pada ilustrasi.

Mungkin pada tipografi.

Mungkin pada pembuatan identitas visual.

Mungkin pada video dan media digital.

Atau justru pada bagaimana sebuah desain membantu menyampaikan pesan kepada audiens.

Dari rasa penasaran tersebut, arah belajar mulai terlihat lebih jelas.

 

Coba Membuat Dua Sketsa untuk Pesan yang Sama

Ada latihan sederhana yang bisa kamu gunakan untuk mengeksplorasi minat DKV.

Bayangkan sebuah pesan fiktif:

“Datang ke Festival Kreatif Kota Malang.”

Sekarang buat dua versi sketsa.

Tidak perlu menggunakan aplikasi desain terlebih dahulu. Kamu bisa menggunakan kertas atau catatan digital sederhana.

Pada versi pertama, buat visual yang terasa formal dan informatif.

Pada versi kedua, buat pendekatan yang lebih ekspresif.

Kamu dapat mengubah posisi judul, ukuran teks, gambar, komposisi, atau cara pesan ditampilkan.

Setelah selesai, jangan langsung menilai mana yang paling bagus.

Tuliskan alasan di balik pilihanmu.

Mengapa kamu memilih ukuran judul tersebut?

Mengapa gambar diletakkan pada posisi tertentu?

Mengapa satu desain menggunakan banyak ruang kosong?

Mengapa versi lainnya lebih padat?

Kemudian tanyakan:

Bagian mana dari proses tadi yang paling kamu nikmati?

Apakah saat menemukan ide?

Saat menyusun komposisi?

Saat memikirkan audiens?

Saat memilih gaya visual?

Atau saat mencoba menjelaskan mengapa kamu membuat keputusan desain tertentu?

Latihan ini bukan tes bakat.

Tujuannya adalah melihat proses desain mana yang membuatmu ingin terus mengeksplorasi.

 

Belajar Menjelaskan Alasan di Balik Sebuah Desain

Salah satu langkah penting bagi seorang desainer adalah bergerak dari sekadar “membuat desain” menuju kemampuan menjelaskan pemikiran di balik desain tersebut.

Misalnya, ada dua pilihan warna.

Seorang pekerja desain mungkin memilih salah satunya karena menurutnya terlihat lebih bagus.

Namun, semakin dalam seseorang mempelajari komunikasi visual, pertanyaannya bisa berkembang.

Apakah warna tersebut sesuai dengan audiens?

Apakah kontrasnya membantu keterbacaan?

Apakah pilihan visualnya mendukung pesan?

Apakah gaya tersebut sesuai dengan media yang digunakan?

Kemampuan seperti ini membuat desain tidak hanya berdiri sebagai karya visual, tetapi juga sebagai hasil pertimbangan.

Bagi pekerja yang selama ini lebih sering mengikuti referensi atau permintaan desain, proses belajar seperti ini dapat membantu mengembangkan gagasan sendiri.

Kamu tidak hanya mengerjakan apa yang diminta, tetapi mulai belajar menjelaskan mengapa sebuah pilihan visual digunakan.

 

Cocokkan Rasa Ingin Tahu dengan yang Dipelajari di S1 DKV

Setelah melakukan beberapa latihan, perhatikan pola pertanyaan yang muncul.

Jika kamu sering tertarik pada bagaimana sebuah ide dikembangkan menjadi visual, kamu bisa mengeksplorasi pengembangan konsep.

Jika kamu penasaran mengapa sebuah gambar, tipografi, warna, dan tata letak dapat menyampaikan makna tertentu, kamu dapat mulai mendalami komunikasi visual.

Jika kamu banyak bertanya tentang siapa yang melihat desain dan bagaimana orang merespons sebuah pesan, kamu mulai bersentuhan dengan pemahaman audiens.

Dalam pendidikan DKV, kemampuan tersebut dapat dipelajari secara lebih terstruktur.

Program S1 Desain Komunikasi Visual mempelajari penyampaian pesan melalui gambar, tipografi, video, dan media digital.

Artinya, kamu tidak hanya berlatih menghasilkan karya visual.

Kamu juga belajar bagaimana sebuah pesan dikembangkan, diterjemahkan ke bentuk visual, lalu disampaikan kepada orang yang dituju.

Baca juga: Pelajari S1 Desain Komunikasi Visual UBHINUS

 

Minat DKV Bisa Muncul dari Rasa Tidak Puas pada Hasil Sendiri

Ada satu kondisi yang cukup menarik bagi pekerja kreatif.

Kamu mungkin sudah bisa menyelesaikan berbagai permintaan desain, tetapi masih merasa ada sesuatu yang kurang.

Bukan karena hasilnya selalu buruk.

Justru pekerjaan bisa saja selesai dan diterima.

Namun, kamu merasa masih terlalu sering bergantung pada referensi, template, atau arahan orang lain.

Perasaan tersebut dapat menjadi titik awal untuk bertanya:

Bagaimana saya bisa memiliki gagasan visual sendiri?

Pertanyaan itu berbeda dari sekadar ingin menjadi lebih cepat menggunakan aplikasi desain.

Di dalamnya ada kebutuhan untuk berkembang secara konseptual.

Kamu ingin memiliki alasan di balik pilihan visual.

Kamu ingin mampu mengembangkan ide.

Kamu ingin memahami siapa yang akan menerima pesan.

Dan kamu ingin sebuah karya terasa sebagai hasil pemikiran, bukan sekadar mengikuti contoh.

Jika pertanyaan seperti itu sering muncul, DKV dapat menjadi bidang yang menarik untuk dieksplorasi lebih lanjut.

 

Buat Peta Minat dari Pengalaman Desainmu

Agar refleksi menjadi lebih jelas, kamu bisa membuat peta sederhana.

Gunakan format:

Pengalaman → Pertanyaan → Bidang yang ingin dipelajari

Contohnya:

Pengalaman: sering membuat desain berdasarkan referensi dari klien.

Pertanyaan: bagaimana cara menghasilkan konsep visual sendiri tanpa sekadar meniru referensi?

Bidang yang ingin dipelajari: pengembangan konsep.

Contoh lainnya:

Pengalaman: membuat konten promosi untuk audiens berbeda.

Pertanyaan: mengapa desain yang efektif untuk satu kelompok belum tentu efektif untuk kelompok lain?

Bidang yang ingin dipelajari: komunikasi visual dan pemahaman audiens.

Atau:

Pengalaman: sering bingung memilih susunan elemen dalam sebuah desain.

Pertanyaan: bagaimana komposisi memengaruhi cara orang membaca pesan?

Bidang yang ingin dipelajari: tata letak dan komunikasi visual.

Tidak perlu menghasilkan banyak jawaban.

Satu atau dua pertanyaan yang benar-benar ingin kamu pahami sudah cukup menjadi titik awal eksplorasi.

 

Dari Pekerja Desain Menuju Desainer yang Memiliki Gagasan

Pengalaman kerja memberikan sesuatu yang penting: kamu sudah terbiasa menghadapi kebutuhan nyata.

Ada deadline.

Ada revisi.

Ada arahan.

Ada audiens.

Ada pesan yang harus disampaikan.

Namun, semakin lama bekerja, kamu mungkin mulai ingin bergerak dari sekadar memenuhi permintaan menuju kemampuan membangun gagasan.

Perubahan tersebut membutuhkan proses.

Kamu perlu belajar melihat masalah komunikasi.

Mengembangkan beberapa alternatif ide.

Menentukan alasan pemilihan visual.

Mengenali karakter audiens.

Mencoba pendekatan yang berbeda.

Kemudian mengevaluasi hasilnya.

Proses seperti ini dapat membantu membentuk identitas profesional yang lebih kuat.

Kamu tidak hanya dikenal sebagai seseorang yang “bisa membuat desain”, tetapi sebagai desainer yang memahami tujuan di balik karya yang dibuat.

 

Kenali S1 Desain Komunikasi Visual Kelas Karyawan UBHINUS

Jika setelah melakukan eksplorasi kamu semakin tertarik memahami konsep, komunikasi visual, dan proses pengembangan gagasan, kamu dapat mulai melihat pendidikan formal di bidang DKV.

Universitas Bhinneka Nusantara atau UBHINUS di Malang memiliki Program S1 Desain Komunikasi Visual Kelas Karyawan (P2K).

Program ini mempelajari penyampaian pesan melalui gambar, tipografi, video, dan media digital. Gelar yang diperoleh setelah menyelesaikan program adalah Sarjana Desain (S.Ds.).

Institusi UBHINUS tercatat berakreditasi Baik Sekali, sedangkan Program Studi S1 Desain Komunikasi Visual tercatat berakreditasi Baik.

Perkuliahan menggunakan metode Hybrid Learning.

Jadwal yang tersedia dalam data program meliputi:

Senin: 17.00–20.00

Selasa: 17.00–20.00

Rabu: 17.00–20.00

Kamis: 17.00–20.00

Jumat: 17.00–20.00

Sabtu: 07.00–17.00

Pilihan waktu tersebut memberikan ruang bagi pekerja untuk menjalani aktivitas kerja sekaligus melanjutkan pendidikan.

Untuk pembiayaan, tercantum biaya formulir Rp100.000 dan biaya herregistrasi Rp1.600.000.

Total biaya awal pada simulasi adalah Rp1.700.000. Tersedia pula simulasi enam kali angsuran dengan nilai Rp1.580.000 per bulan.

Baca juga: Informasi S1 Desain Komunikasi Visual UBHINUS

Informasi mengenai kampus juga dapat dilihat melalui website UBHINUS Malang.

 

Mulai dari Karya yang Sudah Pernah Kamu Buat

Mengenali minat sebelum memilih Jurusan Desain Komunikasi Visual tidak harus dimulai dari pertanyaan besar mengenai masa depan.

Mulailah dari karya yang sudah pernah kamu buat.

Pilih beberapa desain lama.

Perhatikan proses pembuatannya.

Cari bagian yang membuatmu penasaran.

Kemudian coba buat satu eksperimen kecil dengan pendekatan yang berbeda.

Dari sana, tanyakan:

Apakah saya hanya ingin menghasilkan desain, atau saya juga ingin memahami mengapa sebuah desain dapat menyampaikan pesan dengan baik?

Jika kamu semakin tertarik mengembangkan konsep, memahami audiens, mengeksplorasi komunikasi visual, dan memiliki alasan yang lebih kuat di balik setiap karya, rasa ingin tahu tersebut layak dikembangkan.

Pengalamanmu sebagai pekerja desain sudah menjadi titik awal.

 

Pendidikan dapat menjadi ruang untuk memperluas cara berpikir, mencoba lebih banyak pendekatan, serta membangun kemampuan menghasilkan gagasan visual yang semakin matang.

Pelajari S1 Desain Komunikasi Visual di UBHINUS, lalu pilih bagian dari proses desain yang paling ingin kamu dalami dari pengalaman kerjamu.